
Dalam perspektif sebagian orang,
pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional yang identik dengan
pembelajaran agama, kedisiplinan, serta pembentukan akhlak dan karakter santri.
Menurut Kementerian Agama Republik Indonesia, pesantren memiliki peran penting
tidak hanya sebagai pusat pendidikan Islam, tetapi juga sebagai lembaga
pemberdayaan masyarakat dan pengembangan moral bangsa. Hal ini ditegaskan dalam
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren yang menyebutkan bahwa
pesantren berfungsi dalam pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Di tengah perubahan sosial yang
begitu cepat, nilai-nilai yang diajarkan pesantren justru menjadi fondasi
penting bagi generasi muda.
Tak bisa dipungkiri, perkembangan
zaman yang semakin cepat membawa perubahan besar dalam kehidupan remaja dari
waktu ke waktu. Kemajuan teknologi memang memberi banyak manfaat, namun di sisi
lain juga menghadirkan tantangan yang serius, seperti krisis moral, rendahnya
adab, hingga menurunnya kedekatan generasi muda terhadap nilai-nilai keislaman
pada diri. Maka dari kondisi ini, pesantren kemudian hadir bukan hanya sebagai
tempat belajar agama, melainkan juga sebagai ruang untuk membentuk karakter
remaja. Pesantren hadir sebagai upaya mendidik remaja agar memiliki ilmu,
akhlak, disiplin, dan tanggung jawab sosial yang kuat. Oleh karena itu, memberikan
kesempatan untuk remaja ke pesantren pada masa sekarang bukan lagi sekadar
pilihan pendidikan, melainkan kebutuhan zaman. Dengan itu, diharapkan ke
depannya adab akan tetap abadi di negeri ini.
Salah satu pesantren yang
memiliki sejarah yang panjang dalam membentuk generasi perempuan berilmu dan
berakhlak mulia adalah Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang. Lembaga ini
didirikan pada tahun 1923 oleh Rahmah El Yunusiyah, seorang ulama perempuan
sekaligus pelopor pendidikan Islam bagi kaum perempuan di Indonesia sejak dulu.
Awalnya, beliau mendirikan sekolah ini karena melihat bahwa perempuan pada masa
itu sangat terbatas dalam memperoleh Pendidikan baik formal maupun non formal.
Seolah tugas perempuan hanya di rumah saja, mengurus keluarga dan hal lain yang
dinilai sangat terbatas. Namun, Rahmah El Yunusiyah memiliki pandangan berbeda
yang melampaui pemikiran saat itu. Ia meyakini bahwa perempuan memiliki peran
besar dalam membangun bangsa karena perempuan adalah madrasah pertama bagi
anak-anaknya kelak. Artinya generasi berikutnya sangat bergantung pada
pertanyaan seperti apa didikan ibunya?
Cita-cita besar Rahmah El
Yunusiyah tidak hanya ingin menciptakan perempuan yang pandai secara akademik,
tetapi juga kuat secara moral dan spiritual yang akan digunakan sepanjang hayat.
Ia menginginkan lahirnya generasi perempuan Islam yang jujur, mandiri,
berwawasan luas, serta mampu menjadi pendidik dalam keluarga maupun masyarakat.
Karena itu, sistem pendidikan di Diniyyah Puteri sejak awal memadukan
pendidikan agama, ilmu umum, keterampilan hidup, dan pembentukan akhlak mulia.
Sebagaimana tujuan Pendidikan Diniyyah Puteri yaitu melaksakanan Pendidikan dan
pengajaran berdasar atas ajaran Islan dengan tujuan membentuk puteri yang
berjiwa Islam dan ibu pendidik yang cakap dan aktif serta bertanggung jawab
tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air dalam pengabdian kepada Allah
SWT. Bahkan, penelitian tentang pemikiran beliau menunjukkan bahwa pendidikan
perempuan menurut Rahmah harus mampu mengangkat martabat perempuan sekaligus
membangun peradaban bangsa. (Digilib UIN Sunan Kalijaga)
Di tengah maraknya pergaulan
bebas dan pengaruh media sosial yang sulit dikendalikan hari ini, lingkungan
pesantren menjadi tempat yang relatif aman dan konsisten sebagai pembentuk
kepribadian remaja. Kehidupan di pesantren melatih siswa untuk hidup jujur,
disiplin, menghargai waktu, mandiri, dan terbiasa menjalankan ibadah secara
teratur. Nilai-nilai seperti menghormati guru, berbakti pada orang tua,
kesederhanaan, serta kepedulian sosial juga terus ditanamkan dalam kehidupan
sehari-hari. Karena tanpa kita sadari, hal inilah yang sering kali mulai luntur
di tengah kehidupan modern yang serba instan dan individualis ini.
Keunggulan Diniyyah Puteri
Padang Panjang juga terlihat dari pengaruh dan kontribusinya terhadap
pendidikan perempuan di Indonesia. Banyak tokoh perempuan lahir dari lembaga
ini, di antaranya adalah Rasuna Said yang pernah menjadi santri Rahmah El
Yunusiyah. Rasuna Said adalah perempuan yang berani bicara di tengah penjajahan
belanda saat itu. Ia dengan tegas dan lantang memperjuangkan hak Pendidikan dan
kebebasan berpikir untuk kaum perempuan. Kemudian ada Nurhayati Subakat yang
juga pernah menjadi santri di MTsS DMP Diniyyah Puteri Padang Panjang. Ia
adalah pengusaha sukses Indonesia yang dikenal sebagai pendiri perusahaan
kosmetik halal terbesar di Indonesia, yaitu ParagonCorp
yang menaungi merek Wardah. Melalui
Pendidikan Di MTsS DMP Diniyyah Puteri, Ia memegang teguh nilai kejujuran,
inovasi, disiplin, Pendidikan karakter dan perjuangan hidup karena Allah di
tiap lini kehidupannya.
Lebih dari itu, Rahmah juga
memperoleh gelar “Syaikhah” dari Universitas Al-Azhar Mesir, sebuah penghargaan
yang sangat langka bagi perempuan dari
masa itu sampai sekarang. Hal tersebut membuktikan bahwa kualitas pendidikan
yang beliau bangun mendapat pengakuan dunia Islam internasional. Karena hal
itu, Diniyyah Puteri tetap memegang teguh Pendidikan Islam dan
karakter dengan sangat serius dalam membentuk generasi remaja yang akan menjaga
beradaban bangsa di negeri ini.
Dengan demikian, memberi kesempatan remaja untuk menempuh pendidikan di pesantren, khususnya di Diniyyah Puteri Padang Panjang, merupakan langkah penting dan tepat untuk mempersiapkan generasi masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan memahami Islam secara kaffah. Cita-cita besar Rahmah El Yunusiyah masih sangat relevan sampai hari ini, yakni melahirkan generasi muda yang berilmu, beriman kepada Allah, serta mampu membawa perubahan positif bagi masyarakat untuk mengabadikan Adab. Di tengah tantangan zaman modern era ini, pesantren tetap menjadi benteng pendidikan karakter yang sangat dibutuhkan oleh remaja masa kini.
Tulis Komentar