Balada Senja TemaramKarya dari rindu yang tlah sampai Guru MTsS DMP Diniyyah Puteri
Balada Senja Temaram

Kasih sayang dan dedikasi seorang guru tak hanya tergambar dalam sapaan hangat, senyuman tulus, atau perhatian sehari-hari. Meski ia berdiri di depan kelas untuk mengajar, hatinya senantiasa tertuju pada Sang Pemilik Semesta, yang dengan kuasaNya membolak-balikkan hati manusia demi kebaikan santri-santrinya. Karya ini dipersembahkan dengan sepenuh cinta oleh para Ibu Guru hebat bagi seluruh santri di MTs S DMP Diniyyah Puteri

Balada Senja Temaram (Karya dari rindu yang tlah sampai)

Pernah, pada satu kali
kuajak sunyi duduk bersama,
sembari merenungi apa jadinya kelak.
Kamu katakan padaku,
kamu suka dengan segala keindahan,
termasuk senja.
Ah, senja lukisan melankolia yang membelai cakrawala.
Senja memang indah, Nak.
Tapi kamu dan aku tahu,
setelahnya selalu akan gelap.

Di gelap itu kamu kan diuji,
bertanya dan menimbang diri
antara menyerah, atau tetap melangkah.
Gelap adalah kanvas rahasia, tempat bintang menulis doa dalam diam.
Di gelap itulah kamu menemukan
kekuatan yang tak disadari;
membawa semangat yang membara dalam jiwa,
kemudian menjadi cahaya di tengah gelap.

Jangan takut akan kegelapan,  sebab setiap mata tetap awas mengintai kebenaran,  menyaksikan yang jujur, menatap yang lalai.  Dalam diam otak menyimpan senja dalam ingatan,  menyadari bahwa aturan waktu tak bisa dilawan,  namun bisa dimaknai oleh mereka yang paham.

Tak perlu takut dengan gelap, Nak,
sebab mungkin di sana
kamu akan melihat taburan bintang bersinar.
Tiap langkah kecil yang menapak
akan kamu temukan jejak kekuatan
menuju cahaya mengukir puisi yang disulam takdir.

Karena aku tahu
di ujung kegelapan,
selalu ada fajar yang bersiap untuk naik
pada peraduan.
Ketika fajar itu menyingsing, percayalah,
setiap langkah terasa lebih ringan.
Tekad akan membawamu belajar
pada tiap rintangan,
untuk menemukan arti dari pertahanan.

Di ufuk timur,
temaram bergulir hingga cahaya emas
perlahan menyinari jiwamu.
Saat itu,
kamu temukan kekuatan dalam diri
untuk menghadapi tantangan yang baru.

Dan ketika mentari tlah meninggi, membasuh embun dan menghangatkan bumi, Kamu akan tahu bahwa ujian telah terlewati, Bahwa jiwa telah mengalami dan mengerti.

Kegelapan bukan akhir, tapi jeda, ruang hening untuk menata raga, menyusun puing asa, menyadari bahwa kita jauh lebih perkasa.

Tataplah senja tanpa cemas, Karena kamu telah mengenal gelap yang luas, Kamu,  penempuh yang tak lelah yang selalu menemukan jalan pulang menuju cahaya yang utuh.

Maka, Belajarlah!  sebagai kunci dan upaya untuk membuka kebaikan ilmu yang pancarkan cahaya
dari Sang Maha Perkasa,
namun Allah tak akan memberikannya
kepada pembuat dosa.

Dalam lautan ilmu itu,
sampanmu akan berlayar,
menelusuri mutiara-mutiara hikmah yang tak ternilai.
Sehingga akan kamu pahami,
menjadi bijak dan menjadi kuat
adalah tujuan untuk menjadi lebih baik.

Teruslah melangkah,
dengan hati yang semakin kuat, Nak.
Kamu akan jauh meninggalkanku,
dan tiap langkahmu
menjadi bukti kekuatanmu.
Rinduku akan menetes seperti embun di daun kenangan.

Lihat dan dengarlah hal-hal yang baik
meski yang tampak hanyalah
kebisingan dan dusta yang dipuji suci.
Nyatanya, jika perasaan dan pikiranmu baik,
maka dunia pun akan tersenyum lembut.
Jika hatimu tenang dan pikiranmu terang,
jalan hidup pun akan terasa lapang.

Setiap kebaikan yang kamu tanam
akan berbuah indah kelak di masa depan,
asal dunia tak lebih dulu menutup jalanmu
dengan prasangka yang mungkin mengguyur hati.

Berhasil itu kadang datang
bersama kabut dan luka,
namun, di sanalah kau belajar
arti sabar dan percaya.
Luka adalah tinta kehidupan, tempat jiwa menulis keberanian.

Meski langkahmu lambat dan lelah,
proses panjang akan menuntunmu
pada cahaya indah.
Setiap tantangan mengajarkan arti kuat,
setiap kegagalan membuatmu lebih hebat.
Teruslah melangkah walau perlahan,
karena kesabaran akan menuntunmu
pada kemenangan.
Kesabaran adalah sayap sunyi untukmu, para pejuang cahaya.

Ketika waktumu tiba untuk bersinar,
ingatlah
setiap gelap yang pernah kamu lalui
bukanlah sia-sia.
Dari sana kamu tumbuh, belajar,
dan memahami makna hidup yang sesungguhnya,
bahwa cahaya paling indah
selalu lahir dari jiwa
yang pernah diterpa gelap,
namun tetap memilih untuk tidak padam.
meski akan dipeluk malam

Sebab dari gelap yang pernah dilalui itu,
Allah sedang menumbuhkan iman dan kekuatan dalam jiwa
agar ketika tiba waktumu bersinar,
cahayamu memantulkan cahaya-Nya
dengan indah.
Dan keindahan itu akan terpancar padamu,
di setiap waktu, di setiap saat,
apabila kamu menginginkannya.

Selalu libatkan Allah, ya Nak,
dalam keindahanmu.
Karena Allah-lah yang akan menuntun langkahmu,
menemani setiap proses perjalanan hidupmu,
menguatkan cahayamu ketika redup,
dan membuat sinarmu kembali lebih terang.
Tanpa-Nya, kita hampa.

Kala kegelapan reda,
kita akan kembali bertemu cahaya.
Kamu dan aku tahu,
bahwa kita dituntun oleh aturan-Nya.
Dan di sana, pada batas senja dan fajar, akan kita temukan makna keabadian

Tak henti ku sampaikan padamu, Nak.

Ajak helaan nafas untuk ikut bertasbih dan bertahmid.

Agar Ridho Allah, selalu membersamai kita.

Hingga nanti.








Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)